Indah Pada WaktuNya

"Switch karir ke HR? Emang bisa?" ucapku waktu itu.

Hi! 

Tulisan keduaku ini, aku persembahkan untuk Tuhan sebagai janjiku kepadaNya apabila aku bisa berkarir di HR/HC.

Dan juga tentunya untuk teman-teman yang sedang berjuang untuk meraih mimpinya dalam hal apapun, Semoga tulisan ini bisa memberikan semangat baru ya.

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Matius 7:7)"

2020 merupakan tahun yang penuh pergumulan, dimana sama seperti orang lainnya ketika lulus berharap bisa langsung mendapatkan pekerjaan.

Sejak lulus kuliah, aku sangat ingin sekali bekerja sebagai seorang HRD (Human Resource Development), Aku suka sekali pekerjaan yang berkaitan dengan orang, tentang bagaimana bisa membuat orang lain berkembang dan menjadi pendengar yang baik ketika oranglain membutuhkan. Maka dari itu, selama kurang lebih 10 Bulan aku berjuang hanya apply pekerjaan yang berkaitan dengan HRD saja. 

Beberapa kali apply pekerjaan HRD, beberapa kali pula gagal. 

Ternyata kehidupan mencari pekerjaan yang sesuai keinginan tidak semulus itu. 

Merasa takut? 

Merasa sedih? 

Merasa stress? 

Itu yang aku alami pada waktu itu. Terlebih Melihat teman-temanku yang lain sudah mulai bekerja dan aku hanya berfokus apply lowongan HRD membuatku semakin gelisah.

Namun, ketika situasi yang buat aku gelisah dan aku merasa hati sudah tidak benar, aku berdoa dan memohon kepada Tuhan

Langsung dijawab pada saat itu juga? tentu tidak.

Alih-alih keterima sebagai HRD, aku keterima sebagai seorang Scheduler di suatu perusahaan yang cukup bagus pada waktu itu. Disisi lain aku senang dan bersyukur, tapi disisi lain hati kecilku masih sangat menginginkan pekerjaan sebagai HRD. Namun akhirnya aku memantapkan hatiku untuk menerima pekerjaan tersebut.

Bagaikan bejana siap dibentuk....

Singkat cerita, aku berangkat sebagai anak rantau kembali.

Tentunya merantau ketika kuliah sangatlah berbeda ketika merantau saat bekerja. Tantangan, Kesulitan, rasa sedih yang dialami ketika bekerja berkali-kali lipat dibandingkan merantau waktu kuliah. Apalagi pada saat itu aku sebagai fresh graduate yang belum punya pengalaman apapun harus bisa mengikuti fase dunia pekerjaan yang cukup cepat dan dinamis.

Kerap kali di awal aku bekerja, aku selalu komplain ke Tuhan, "Tuhan, kenapa aku Tuhan panggil kesini? Tuhan mau bentuk aku kayak gimana sih, Tuhan? Tuhan aku ga sanggup, Tuhan aku ga bisa, aku merasa bodoh dan ga mampu Tuhan"

Menangis, Stress, Putus asa, Itu yang aku alami ketika awal Tuhan membentuk aku. Namanya juga dibentuk, pasti sakit bukan? 

Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.” (Ulangan 31:6 TB)

Terkadang kerap kali kita lupa bahwa kita tidak sendirian, Kita punya Tuhan. Selama kita berjalan dalam koridorNya, Dia pasti tidak akan membiarkan kita

Setahun berlalu, Pertolongan Tuhan selalu menyertaiku hingga aku sudah bisa menikmati ritme pekerjaanku, aku sudah nyaman dan aku sudah mulai ikhlas bahwa aku tidak akan bisa ke HR lagi.

Naik tangga kehidupan

Tentunya, dalam kehidupan ketika kita sudah merasa nyaman akan sesuatu pasti kita akan memasuki fase naik kelas. Ketika aku sudah mulai nyaman sebagai scheduler, tiba-tiba ada pesan masuk mengikuti proses rekrutmen sebagai HRD disalah satu perusahaan. 

Senang, Bingung, Degdegan

Perasaan waktu itu cukup campur aduk, Aku sudah mulai nyaman dengan pekerjaanku saat itu, Tapi tetap hati kecilku tidak bisa bohong, perasaan untuk menjadi HRD itu tetap ada. Akhirnya, aku coba iseng meskipun dalam hati "Yaudalah, dicoba dulu semisal ga lolos juga ga masalah".

Selama proses rekrutment berlangsung, aku merasakan sekali bahwa Tuhan campur tangan. Sebegitu mulusnya, membuat aku yang awalnya iseng menjadi sangat berharap. Quotes yang aku pegang ketika Presentasi & interview akhir adalah 

"Ketika Tuhan sudah mengutus, Maka Tuhan menyertai"

Aku sangat mengimani akan hal ini, Sehingga tibalah saat offering letter. Aku shocked. Aku keterima menjadi seorang HRD. 

Rasanya ingin menangis, Sangat terharu. Namun disisi lain aku sudah merasa nyaman dengan pekerjaan yang sekarang, lagi-lagi aku tanya Tuhan "Tuhan, kenapa disaat aku sudah mulai nyaman pekerjaan sekarang, aku dipanggil menjadi HRD apakah benar atas seizin Tuhan?"

Aku belajar, dalam kehidupan yang tidak ku mengerti ini, cara satu-satunya adalah Selalu melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan yang akan kita ambil

Singkat cerita, Aku memutuskan untuk switch karir dari scheduler ke HR. Hal ini cukup sulit sebenernya dengan akal manusia karna ilmu teknis yang ku pakai berbeda. Tapi firman Tuhan bilang :

Tetapi seperti ada tertulis: ”Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”

1 Korintus 2:9

Aku yang sudah ikhlas tidak bekerja di HR, Tiba-tiba Tuhan kasih ketika aku sudah selesai ditempah melalui tempat kerjaku yang lama. 

Tanggal 03 Januari 2024 kemarin, adalah tepat 1 tahun aku bekerja sebagai seorang HR. 

Setahun yang aku alami menjadi seorang HR tentunya tidak seindah yang dibayangkan, tuntutan pekerjaan dan tantangan ternyata lebih berat lagi. 

Sampai aku berpikir, "Oh ternyata waktu itu Tuhan belum kasih aku di HR ini, karna aku belum cukup kuat yaa"

Memang, jalan Tuhan itu sulit sekali untuk dimengerti. 

Tapi Aku sangat bersyukur, waktu itu bisa ditempah Tuhan melalui pekerjaanku yang pertama. Aku sangat berterimakasih kepada perusahaanku yang lama sudah menjadikanku orang yang cukup kuat. 

Dan aku percaya, Ini belum akhir ketika aku menjadi seorang HR. Aku yakin akan ada hal-hal yang Tuhan percayakan kepadaku untuk memuliakan Tuhan melalui pekerjaanku.

Memang kerap sekali kita sering menyalahkan Tuhan atas situasi yang kita hadapi, Kita hanya tau 1 Meter didepan mata saja, Sedangkan Tuhan jauh lebih tahu beratus-ratus meter didepan kita akan terjadi apa. 

Tapi Melalui ini, ada satu hal penting yang perlu kita imani bahwa kita harus belajar mencintai dan taat menjalani prosesNya. 

Ketika Tuhan ingin membentuk karakter kita, Dia pasti mengizinkan tantangan menghampiri hidup kita. Bila kita tidak mau menjalani prosesNya, maka Tuhan tidak dapat membentuk hidup kita dan menjadikannya bejana yang indah. 

Tapi tenang, Selama kita berjalan dikoridornya Tuhan, Percayalah semua berjalan dengan campur tangan dan dalam pengawasan Tuhan. Percayalah Semua indah pada WaktuNya Tuhan. 

Tidak terlalu cepat ataupun terlalu lama tapi Tepat.

Terpujilah Tuhan.

"Waktu Tuhan pasti yang terbaik, walau kadang tak mudah dimengerti, Bejalar untuk tetap percaya akan janjiNya, Melibatkan Dia dan Menyerahkan sepenuhnya kedalam tanganNya"



Comments

Popular Posts